Copenhagen Cafe
Aku sedang di sebuah café emperan jalan di kota Copenhagen. Duduk sendirian di sebuah meja kecil dengan 4 kursi bersandaran rotan (mungkin buatan negeri kita, Indonesia).

Secangkir cinnamon coffee masih mengepulkan asap panas, ku seruput…… Mencoba mencampakkan dingin yang meresap di sepasang telapak tanganku sambil mengamati sepasang suami-istri dan seorang balita lelaki yang sedang mengaduk-aduk dan bermain-main dengan makanannya. Entah kenapa, batin ini perih melihat pemandangan yang sesungguhnya indah itu. “Entah aku akan memiliki yang mana, tapi aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua,…Jeffrey & Thomas. Maafkan Ibu jika pernah merasa putus asa dan kehilangan semangat” (2 adikmu, saat itu blm hadir dalam kehidupan kita)

Ku seruput lagi kopi di cangkir, hangat sehangat hatiku dengan asa baru “Demi kalian, aku akan mengganti semangat hidupku dengan satu yang lebih baru, Nak. Aku memang belum bisa bersama kalian. Perjuangan ini belum selesai, begitupun nyawaku…”

——————————————————————————————-
*Copenhagen~Denmark, 2 November-2002. Sehari setelah penerbangan dari Boston, 2 hari setelah kekalahanku di pengadilan Plymouth. Rasanya separuh hidupku sudah hilang, tetapi kekuatanku tumbuh lagi saat aku keluar dari ruang siding, anak tertua-ku~Jeffrey membisikan kepadaku ketika aku baru keluar ruang pengadilan, “It’s ok, Mommy. Kita telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

This entry was posted in Diary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *